EKSISTENSIAL HUMANISTIK
MAKALAH
Diajukan sebagai Salah Satu Tugas
Dalam Mata Kuliah model – model konseling I
NAMA KELOMPOK
1.
Baeni Ikhwati
2.
Retno Wulandari 1113500007
3.
Tyas Sahadatul Amanah 1113500112
SEMESTER IV A
BIMBINGAN DAN
KONSELING
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PANCASAKTI TEGAL
2015
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada
kami dalam keadaan sehat walafiat sehingga telah dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul Eksistensial Humanistik. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah Model – Model Konseling I.
Dalam
penulisan makalah ini juga karena adanya dukungan dari berbagai pihak yang
telah memberikan kelancaran dan motivasi serta batuanya kepada kami.Oleh karena
itu, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.
Semoga Allah
SWT, memberikan pahala yang sesuai dengan amal dan keikhlasannya dalam membantu
penulis selama proses pembuatan makalah ini. Penulis menyadari dalam makalah
ini masih banyak kekurangan, untuk itu penulis sangat mengharapkan adanya saran
dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan para
pembaca serta masyarakat pada umumnya.
Tegal,
6 April 2015
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................................................... ..........................i
KATA PENGANTAR .......................................................................................................................... .........................ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................... ........................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................................... .........................1
A. Latar Belakang .........................1
B. Rumusan Masalah .........................1
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................................... .........................2
A
Konsep Dasar........................................................................................................ .........................2
B
Hakekat Manusia......................................................................................................5
C
Hakekat Konseling........................................................................................................ .........................6
D
Tujuan Konseling
........................................................................................................ .........................8
E
Karakteristik
Konseling........................................................................................................ .........................9
F
Peran dan Fungsi
Konselor........................................................................................................ .........................9
G
Hubungan Konselor
Dengan Konseling ...............................................................10
H
Tahap Konseling....................................................................................................12
I
Teknik Konseling...................................................................................................13
J
Kelebihan dan
Kekurangan....................................................................................16
BAB III PENUTUP...............................................................................................................18
A.
Kesimpulan.............................................................................................................18
B.
Saran .......................18
DAFTAR
PUSTAKA..............................................................................................................19
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Usaha
yang di lakukan manusia dalam membantu masalah manusia tidak mungkin tanpa
mengenal dengan baik tentang manusia itu sendiri. Unik dan rumitnya
perilahal manusia sebagai makhluk individu, telah melahirkan bermacam-macam
konsep dan pandangan.Toeri humanistik di kembangkan oleh Maslow tahun 1908-1970
di Amerika serkat.
Dasar
falsafahnya Phenomenology yang
menganggap bahwa manusia pada dasarnya baik dan layak di hormati dan mereka
akan bergerak ke arah realisasi potensi-potensi mereka, manakala kondisi
lingkungannya memberikan kemungkinan. Psikoterapai Humanistik membicarakan
kepribadian manusia di tinjau dari segi self dasi akunya.Konnsep utama yang
anut adalah usaha untuk mengerti manusia sebagai mana adanya, mengetahui mereka
dari realitasnya, melihat dunia sebagai mana mereka melihatnya, memahami mereka
bergerak dan mempunyai keberadaan yang unik, kongkrit dan berbeda dari teori
yang abstrak.Teori humanistik di katakan demikian, karena menekankan
kemampuan-kemampuan yang khas manusiawi.Manusia mempunyai kemampuan untuk
refleksi diri, kemampuan aktualisasi potensi-potensi kreatif dan juga ke
khususan manusia, yaitu menentukan bagi dirinya sendiri secara aktif.
B.
Rumusan masalah
1.
Konsep dasar landasan
Eksistensial Humanistik.
2.
Hakekata Manusia Landasan Eksistensial Humanistik.
3.
Hakekat Konseling landasan Eksistensial Humanistik.
4.
Tujuan Konseling Eksistensial Humanistik.
5.
Karakteristik Konseling Eksistensial Humanistik.
6.
Peran dan fungsi
Konselor dalam Pendekatan Eksistensial Humanistik.
7.
Hubungan Konselor dengan Klien dalam Konseling Eksistensial Humanistik.
8.
Tahap-tahap Konseling Eksistensial Humanistik.
9.
Teknik Konseling Eksistensial Humanistik.
10. Kelebihan
dan keterbatasan Konseling
Eksistensial Humanistik.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Konsep Dasar
Psikologi
humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun
1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang
pada abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi seperti :
Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi
profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia,
seperti tentang : self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta,
kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.
Abraham
Maslow Yang terkenal dengan teori aktualisasi diri di lahirkan di
New York pada tahun 1908. Ia meninggal di Calivornia pada tahun1907. Maslow
seorang anak yang pandai mejalani hubungan yang baik dengan ibunya yang
otoriter yang sering kali melakukan tindakan aneh. Ia menggambarkan dirinya
pada masa kecil sebagai seorang yang pemalu,kutu buku dan neurotic. Tetapi
,maslow tidak selamanya menjadi neurotic dan benci pada dirinya sendiri. Ia
sepenuhnya menyadari potensinya ,dan menjadi psikilog humanisme terkenal yang
mengispirasi banyak perubahan masyarakat kearah yang positif.
Dalam mengembangkan
teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia
dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik-beratkan
pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya,
nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan.
Dari pemikiran Abraham
Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang
potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna
memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang merupakan salah
satu tujuan dalam pendidikan humanistik. Menurut Maslow, yang terpenting dalam
melihat manusia adalah potensi yang dimilikinya. Humanistik lebih melihat pada
sisi perkembangan kepribadian manusia daripada berfokus pada “ketidaknormalan”
atau “sakit”. Pendekatan ini melihat kejadian bagaimana manusia membangun
dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini
yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran
humanistik biasanya memfokuskan penganjarannya pada pembangunan kemampuan
positif ini.
Psikologi
eksistensial humanistic berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama
adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih – alih
suatu system teknik – teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien.
Pendekatan terapi eksistensial bukan suatu pendekatan terapi tunggal, melainkan
suatu pendekatan yang mencakup terapi – terapi yang berlainan yang kesemuanya
berlandaskan konsep – konsep dan asumsi – asumsi tentang manusia.
Teori dan Pendekatan
Konseling Eksistensial-humanistik berfokus pada
diri manusia. Pendeka tan ini
mengutamakan suatu sikap yang menekankan pada
pemahaman atas manusia. Terapi eksistensial berpijak pada
premis bahwa manusia tidak bisa lari dari
kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung
jawab berkaitan. Pendekatan Eksisteneial-Humanistik dalam
konseling menggunakan sistem tehnik-tehnik yang
bertujuan untuk mempengaruhi konseli. Pendekatan terapi
eksistensial-humanistik bukan merupakan terapi tunggal,
melainkan suatu pendekatan yang mencakup
terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya
berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi
tentang manusia.
Pendekatan ini
Berfokus pada sifat dari kondisi manusia yang mencakup kesanggupan untuk
menyadari diri, bebas memilih untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan dan
tanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencarian makna yang unik
di dalam dunia yang tak bermakna, berada sendiri dan berada dalam hubungan dengan
orang lain keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan mengaktualkan diri. Pendekatan
ini memberikan kontribusi yang besar dalam bidang psikologi, yakni tentang
penekanannya terhadap kualitas manusia terhadap manusia yang lain dalam proses
teurapeutik.
Terapi eksistensial-humanistik
menekankan kondisi-kondisi inti manusia dan menekankan kesadaran diri sebelum
bertindak.Kesadaran diri berkembang sejak bayi.Perkembangan kepribadian yang
normal berlandaskan keunikan masing-masing individu. Berfokus pada saat
sekarang dan akan menjadi apa seseorang itu, yang berarti memiliki orientasi ke
masa depan. Maka dari itu, akan lebih meningkatkan kebebasan konseling dalam
mengambil keputusan serta bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang di
ambilnya.
Menurut
Gerald Corey, (1988:54-55) ada beberapa konsep utama dari pendekatan
eksistensial yaitu :
1. Kesadaran diri
Manusia
memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang
unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin
kuat kesadaran diri itu pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan
yang ada pada orang itu. Kesanggupan untuk memilih alternative – alternatif
yakni memutuskan secara bebas di dalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek
yang esensial pada manusia.
2. Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan
Kesadaran
atas kebebasan dan tanggung jawab dapat menimbulkan kecemasan yang menjadi
atribut dasar pada manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh
kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk
mati. Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu
sekarang, sebab kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa
dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi – potensinya.
3. Penciptaan Makna
Manusia itu unik, dalam artian bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan
hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan.
Pada hakikatnya manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya
dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah makhluk rasional.
Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna dapat menimbulkan
kondisi-kondisi keterasingan dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk
mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi – potensi manusiawinya sampai
taraf tertentu.
Konsep dasar menurut Akhmad
Sudrajat adalah :
1) Manusia sebagai makhluk hidup yang dapat menentukan sendiri apa yang ia
kerjakan dan yang tidak dia kerjakan, dan bebas untuk menjadi apa yang ia inginkan.
Setiap orang bertanggung jawab atas segala tindakannya.
2) Manusia tidak pernah statis, ia selalu menjadi sesuatu yang berbeda,
oleh karena itu manusia mesti berani menghancurkan pola-pola lama dan mandiri
menuju aktualisasi diri.
3) Setiap orang memiliki potensi kreatif dan bisa menjadi orang kreatif.
Kreatifitas merupakan fungsi universal kemanusiaan yang mengarah pada seluruh
bentuk self
expression.
Menurut Akhmad Sudrajat individu yang salah suai tidak dapat mengembangkan potensinya. Dengan
kata lain, pengalamannya tertekan.
2.
Hakekat Manusia
Gerakan eksistensial berarti rasa hormat pada seseorang, menggali aspek
baru dari perilaku manusia dan metode memahami manusia yang beraneka ragam.
Falsafah eksistensial memberikan landasan bagi pendekatan terapeutik yang
memfokuskan pada individu-individu yang terpecah serta bersikap asing antara
satu dengan yang lain yang tidak melihat adanya makna dalam lingkungan keluarga
serta system sosial yang ada pada waktu itu. Falsafah itu timbul dari keinginan
untuk menolong orang dalam mengarahkan perhatian pada tema dalam hidup. Yang
diperhatikan adalah orang-orang yang mengalami kesulitan dalam hal mendapatkan
makna dari tujuan hidup dan dalam hal mempertahankan identitas dirinya (Holt,
1986).
Fokus yang sekarang menjadi arah pendekatan eksistensial adalah rasa
kesendirian di dunia dan usaha menghadapi kecemasan akan isolasi ini. Daripada
berusaha untuk mengembangkan aturan-aturan bagi terapi, maka sebagai gantinya
para praktisi eksistensial berusaha keras untuk memahami pengalaman manusia
yang dalam ini. (May & Yalom, 1989).
Pandangan eksistensial akan sifat manusia ini sebagian dikontrol oleh
pendapat bahwa signifikansi dari keberadaan kita ini tak pernah tetap,
melainkan kita secara terus menerus mengubah diri sendiri melalui proyek-proyek
kita. Manusia adalah makhluk yang selalu dalam keadaan transisi, berkembang,
membentuk diri dan menjadi sesuatu. Menjadi seseorang berarti pula bahwa kita
menemukan sesuatu dan menjadikan keberadaan kita sebagai sesuatu yang wajar.
Ø Pandangan manusia menurut teori Humanistik:
1.
Filsafat Eksistensialis
memandang manusia sebagai indvidu dan merupakan problema yang unik dari
existensi kemanusiaan. Manusia merupakan seorang yang ada, yang sadar dan
waspada akan keberadaanya sendiri. Setiap orang menciptakan tujuannya sendiri
dengan segala kreatifitasnya, menyempurnakan esensidan fakta existensinya.
2.
Bahwa manusia sebagai makhluk
hidup, menentukan apa yang ia kerjakan dan yang tidak ia kerjakan, dan
bebas untuk menjadi apa yang ia
inginkan. Jadi yang pokok adalah apakah seorang berkeinginan atau tidak sebab
filsafat eksistensialis percaya bahwa setiap orang bertanggung jawab atas
segala tindakannya. Dengan kata lain setiap individu merupakan penentu utama
akan tingkah laku dan pengalamannya.
3.
Teori humanistik mendsar
pendapat bahwa manusia tidak pernah statis , ia selalu menjadi sesuatu yang
berbeda . untuk menjadi sesuatu ini maka manusia mesti berani menghancurkan
pola – pola lama, berdiri pada kaki sendiri dan mencari jalan, kearah manusia yang
baru dan lebih besar menuju aktualisasi diri.
4.
Menekankan pada kesadaran
manusia, pengalaman personal yang berhubungan dengan eksistensi dalam dunia
orang lain.
3.
Hakekat Konseling
Hakikat konseling
eksistensial-humanistik menekankan renungan filosofi tentang apa artinya
menjadi manusia. Eksistensial-humanistik berdasarkan pada asumsi bahwa
kita bebas dan bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan
yang kita lakukan. Yang paling diutamakan dalam konseling
eksistensial-humanistik adalah hubunganya dengan klien.Kualitas dari dua orang
yang bertatap muka dalam situasi konseling merupakan stimulus terjadinya
perubahan yang positif.
1.
Pendekatan ini berasal
dari motivasi dalam diri yang rumit dan dinamis. Inilah yang membedakan teori
ini dengan teori yang mencari struktur dalam diri individu atau struktur
reinforcement dari lingkungan. Namun teori eksitensial dan humanistic
menyetujui adanya kehendak bebas dan juga kreativitas nyata, dan pemenuhan
diri.
2.
Pendekatan eksitensial tidak
selalu merupakan pendekatan idiografis; mereka menganggap pengalaman setiap
orang unik. Filsuf beraliran eksitensial menyatakan bahwa individu secara
lansung bertanggung jawab atas kepribadian. Bagaimana saya menghadapi cinta ,
etika, kecemasan , kebebasan, dan kematian . apakah saya akan membiarkan
aliensi menggelamkan saya dalam kesengaraan mendalam , atau akankah saya
memakai kehendak bebas untuk melawannya dan mencapai aktualisasi diri, ciri
mendasar dari dilemma eksitensial adalah adanya kemungkinan tercapainya kemenangan
jiwa manusia.
3.
Pendekatan humanistic ,
yang didasarkan pada eksitensialisme tetapi menolak pesimisme, adalah
pendekatan yang paling optimis terhadap kepribadian yang memandang manusia dan
permasalahan spiritual secara positif. Orientasi humanistic maslow , yang
mempelajari individu yang sudah sepenuhnya dewasa dan utuh , membuat psikologi
kepribadian memberikan atensi pada aspek positif dan spiritual teersebut.
Tetapi, inkonsistensi dan ambiguitas dalaam teori Maslow membuat kontribusinya
lebih seperti pandangan yang memberikan pengaruh besar , alih-alih sebuah teori
yang solid.
4.
Pendekatan humanistic
terhadap kepribadian bermanfaat bagi penelitian lintas budaya dan penelitian
tentang kelompok etnik, suatu kebutuhan yang ditekankan dalam buku ini. Banyak
psikolog eksitensial- humanistic terkejut secara pribadi dan secara
intelektual- oleh aliran fasisme pada tahun 1930-1940.
5.
Pendekatan humanistic
terhadap kepribadian memiliki dampak praktis dan berkesenambungan pada
masyarakat umum dalam hal persaingan diri. Saat ini ,tidaklah aneh apabila
seorang pekerja ( atau bahkan sekelompok rekan kerja) pada suatu waktu ingin
mengasingkan diri.’’ Peristirahatan’’ ini berbeda dengan liburan atau tamasya.
Selama mengasingkan diri kita mungkin menenangkan diri dilokasi yang indah,
berusaha mengenali perasaan kita , memperbaruhi cinta kita untuk pasangan ,
menciptakan music atau melakukan hal kreatif lainnya, berlatih, mungkin juga
bermeditasi atau berdo’a. aktivitas tersebut berasal dari asumsi humanistic
bahwa setiap individu memiliki otensi diri unik yang akan muncul apabila
dikembangkan dengan baik.
6.
Psikologi kepribadian
humanistic tidak hanya berbeda dengan pendekatan lain dalam pokok permasalan
dan filsafatnya, tetapi juga dalam ideologinya. Psikolog humanistik mencoba
untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka.
Mereka cenderung untuk berpegang pada prespektif optimistik tentang sifat
alamiah manusia. Mereka berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara
sadar dan rasional untuk dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam
meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung
jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan
untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
7.
Terapi
eksistensial humanistik adalah terapi yang sesuai dalam memberikan bantuan
kepada klien. Karena teori ini mencakup pengakuan eksistensialisme terhadap
kekacauan, keniscayaan, keputusasaan manusia kedalam dunia tempat dia
bertanggung jawab atas dirinya.
8.
Menurut kartini
kartono dalam kamus psikologinya mengatakan bahwa terapi eksistensial
humanistik adalah salah satu psikoterapi yang menekankan pengalaman subyektif
individual kemauan bebas, serta kemampuan yang ada untuk menentukan satu arah
baru dalam hidup.
9.
Sedangkan menurut W.S
Winkel, Terapi Eksistensial Humanistik adalah Konseling yang menekankan
implikasi – implikasi dan falsafah hidup dalam menghayati makna kehidupan
manusia di bumi ini. Konseling Eksistensial Humanistik berfokus pada situasi kehidupan
manusia di alam semesta, yang mencakup tanggungjawab pribadi, kecemasan sebagai
unsur dasar dalam kehidupan batin. Usaha untuk menemukan makna diri kehidupan
manusia, keberadaan dalam komunikasi dengan manusia lain, kematian serta
kecenderungan untuk mengembangkan dirinya semaksimal
mungkin.
4. Tujuan Konseling
Menurut
Gerald Corey, (1988:56) ada beberapa tujuan terapeutik yaitu :
Agar
klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas
keberadaan dan potensi – potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan
bertindak berdasarkan kemampuannya. Keotentikan sebagai “urusan utama
psikoterapi” dan “nilai eksistensial pokok”. Terdapat tiga karakteristik dari
keberadaan otentik :
1) Menyadari
sepenuhnya keadaan sekarang,
2) Memilih bagaimana
hidup pada saat sekarang, dan
3) Memikul tanggung
jawab untuk memilih.
b. Meluaskan kesadaran diri klien,
dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan
bertanggung jawab atas arah hidupnya.
c. Membantu klien agar
mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri, dan
menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekadar korban kekuatan – kekuatan
deterministic di luar dirinya.
Tujuan
Konseling menurut Akhmad Sudrajat yaitu :
1.
Mengoptimalkan kesadaran
individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya menurut apa
adanya. Saya adalah saya.
2.
Memperbaiki dan
mengubah sikap, persepsi cara berfikir, keyakinan serta pandangan-pandangan
individu, yang unik, yang tidak atau kurang sesuai dengan dirinya agar individu
dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self
actualization seoptimal mungkin.
3.
Menghilangkan
hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam proses
aktualisasi dirinya.
4.
Membantu individu dalam
menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat dijangkau menurut kondisi
dirinya.
5.
Karakteristik Konseling
Adapun karakteristik dari terapi
eksistensial humanistik adalah sebagai berikut:
1.
Eksistensialisme bukanlah suatu aliran melainkan suatu gerakan yang memusatkan
penyelidikannya manusia sebagai pribadi individual dan sebagai ada dalam dunia
(tanda sambung menunjukkan ketakterpisahan antara manusia dan dunia).
2. Adanya dalil-dalil yang melandasi yaitu:
a.
Setiap manusia unik dalam kehidupan batinnya, dalam mempersepsi dan mengevaluasi
dunia, dan dalam bereaksi terhadap dunia
b.
Manusia sebagai pribadi tidak bisa dimengerti ddalam kerangka fungsi-fungsi
atau unsur-unsur yang membentuknya.
c.
Bekerja semata-mata dalam kerangka kerja stimulus respons dan memusatkan
perhatian pada fungsi-fungsi seperti penginderaan, persepsi, belajar,
dorongan-dorongan, kebiasaan-kebiasaan, dan tingkah laku emosional tidak akan
mampu memberikan sumbangan yang berarti kepada pemahaman manusia
3.
Berusaha melengkapi, bukan menyingkirkan dan
menggantikan orientasi-orientasi yang ada dalam psikologi
4. Sasaran eksistensial
adalah mengembangkan konsep yang komperehensif tentang manusia dan memahami
manusia dalam keseluruhan realitas eksistensialnya, misalnya pada kesadaran,
perasaan-perasaan, suasana-suasana perasaan, dan pengalaman-pengalaman pribadi
individual yang berkaitan dengan keberadaan individualnya dalam dunia dan
diantara sesamanya.
5.
Tujuan utamanya adalah menemukan kekuatan dasar, tema, atau tendensi dari
kehidupan manusia, yangdapat dijadikan kunci kearah memahami manusia.
6.
Tema-temanya adalah hubungan antar manusia, kebebasan, dan tanggung jawab,
skala nilai-nilai individual, makna hidup, penderitaan, keputusasaan, kecemasan
dan kematian.
6.
Peran dan Fungsi Konselor
Menurut Buhler
dan Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang
mencakup hal-hal berikut :
1.
Mengakui pentingnya
pendekatan dari pribadi ke pribadi
2.
Menyadari peran dari
tanggung jawab terapis
3.
Mengakui sifat timbal
balik dari hubungan terapeutik
4.
Berorientasi pada
pertumbuhan
5.
Menekankan keharusan
terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi
6.
Mengakui bahwa putusan
dan pilihan akhir terletak ditangan klien.
7.
Memandang terapis
sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya
Hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif
Hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif
8.
Mengakui kebebasan
klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk
mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
9.
Bekerja ke arah
mengurangi ketergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien
Peran dan Fungsi konselor sebagai berikut :
1.
Memahami dunia klien dan membantu klien untuk berfikir dan mengambil
keputusan atas pilihannya yang sesuai dengan keadaan sekarang.
2.
Mengembangkan kesadaran, keinsafan tentang keberadaannya sekarang agar
klien memahami dirinya bahwa manusia memiliki keputusan diri sendiri.
3.
Konselor sebagai fasilitator memberi dorongan dan motivasi agar
klien mampu memahami dirinya dan bertanggung jawab menghadapi reality.
4.
Membentuk kesempatan seluas – luasnya kepada klien, bahwa putusan akhir
pilihannya terletak ditangan klien.
Dalam buku Gerald Corey, May ( 1961 ) memandanga tugas terapis
diantaranya adalah membantu klien agar menyadari keberadaanya dalam dunia :
“Ini adalah saat ketika pasien melihat dirinya sebagai orang yang terancam,
yang hadir di dunia yang mengancam dan sebagai subyek yang memiliki dunia”.
7.
Hubungan Konselor dengan Klien
Dalam membicarakan masalah hubngan pertologan dari teori Humanistik ini,
dikemukakan ciri - ciri hubungan
konselor dan konseli sebagai berikut:
1.
Adanya hubungan psikologis
yang akrab antara konselor dan klien.
2.
Adanya kebebasan secara penuh
bagi individu untuk mengemukakan problemnya dan apa yang diinginkan.
3.
Konselor berusaha sebaik
mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku individu dengan tanpa
memberikan sanggahan.
4.
Unsur menghargai dan
menghormati keadaan diri individu merupakan kunci atau dasar yang paling
menentukan dalam hubungan yang diadakan.
5.
Pengenalan tentang keadaan
individu sebelumnya juga keadaan lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor.
Yang paling diutamakan oleh konselor eksistensial adalah hubunganya
dengan klien. Kualitas dari dua orang yang bertatap muka dalam situasi
terapeutik merupakan stimulus terjadinya perubahan yang positif. Konselor
percaya bahwa sikap dasar mereka terhadap klien, karakteristik pribadi tentang
kejujuran, integritas dan keberanian merupakan hal-hal yang harus ditawarkan.
Konseling merupakan perjalanan yang ditempuh konselor dan klien, suatu perjalanan
pencarian menyelidiki kedalam dunia seperti yang dilihat dan dirasakan klien.
Konselor berbagi reaksi dengan kliennya disertai kepedulian dan empati
yang tidak dibuat-buat sebagai satu cara untuk memantapkan hubungan terapeutik.
May dan Yalom (1989) menekankan peranan krusial yang dimainkan oleh kapasitas
konselor untuk disana demi klien selama jam terapi yang mencakup hadir secara
penuh dan terlibat secara intens dengan kliennya. Sebelum konselor membimbing
klien untuk berhubugan dengan orang lain, maka pertama-tama harus secara akrab
berhubungan dengan si klien itu (Yalom, 1980).
Inti dari hubungan terapeutik adalah rasa saling menghormati, yang
mencakup kepercayaan akan potensi klien untuk secara otentik menangani
kesulitan mereka dan akan kemampuan mereka menemukan jalan alternatif akan
keberadaan mereka. Sidney Jourad (1971) mendesak konselor untuk mengajak klien
mereka benar-benar menunjukkan keotentikan dirinya melalui perilaku yang
otentik dan pengungkapan diri. Oleh karena itu konselor mengajak klien untuk
tumbuh dengan mencontoh perilaku otentik. Mereka bisa menjadi transparan
apabila dianggap cocok untuk diterapkan dalam hubungan itu, dan sifat
kemanusiaannya bisa menjadi stimulus untuk diambil potensi riilnya oleh klien.
Hubungan terapeutik sangat penting bagi terapis eksistensial. Penekanan
diletakkan pada pertemuan antar manusia dan perjalanan bersama alih – alih pada
teknik-teknik yang mempengaruhi klien. Isi pertemuan terapi adalah pengalaman
klien sekarang, bukan “masalah” klien. Hubungan dengan orang lain dalam
kehadiran yang otentik difokuskan kepada “di sini dan sekarang”. Masa lampau
atau masa depan hanya penting bila waktunya berhubungan langsung (Gerald
Corey.1988:61).
Ø Pola hubungan :
1. Hubungan klien adalah hubungan kemanusiaan. Konselor berstatus sebagai
partner klien, setara dengan klien sehingga hubungannnya berada dalam situasi
bebas tanpa tekanan.
2. Klien sebagai subjek bukan obyek yang dianalisis dan didiagnosis.
3. Konselor harus terbuka baik kepribadiannya dan tidak pura – pura.
8.
Tahap Konseling
1.
Tahap Awal
Ada tiga tahap dalam proses
konseling eksistensial-humanistik. Selama tahap pendahuluan, konselor membantu
klien dalam hal mengidentifikasi dan mengklarifikassi asumsi mereka terhadap
dunia. Klien diajak untuk mendefinisikan dan menanyakan tentang cara mereka
memandang dan menjadikan eksistensi mereka bisa diterima. Mereka meneliti nilai
mereka, keyakinan, serta asumsi untuk menentukan kesahihannya. Bagi banyak
klien hal ini bukan pekerjaan yang mudah oleh karena mereka mungkin pada
awalnya memaparkan problema mereka sebagai hamper seluruhnya sebagai akibat
dari penyebab eksternal. Mereka mungkin berfokus pada apa yang orang lain
“jadikan mereka merasakan sesuatu” atau betapa orang lain bertanggung jawab
sepenuhnya akan apa yang mereka lakukan atau tidak lakukan. Konselor mengajar
mereka bagaimana caranya untuk becermin pada eksistensi mereka sendiri dan
meneliti peranan mereka dalam hal penciptaan problem mereka dalam hidup.
2.
Tahap Pertengahan
Pada tahap tengah dari
konseling eksistensial, klien didorong semangatnya untuk lebih dalam lagi
meneliti sumber dan otoritas dari system nilai mereka. Proses eksplorasi diri
ini biasanya membawa klien ke pemahaman baru dan beberapa restrukturisasi dari
nilai dan sikap mereka. Klien mendapatkan cita rasa yang lebih baik akan jenis
kehidupan macam apa yang mereka anggap pantas. Mereka mengembangkan gagasan
yang jelas tentang proses pemberian nilai internal mereka.
3.
Tahap Akhir
Tahap terakhir dari konseling
eksistensial berfokus pada menolong klien untuk bisa melaksanakan apa yang
telah mereka pelajari tentang diri mereka sendiri. Sasaran terapi adalah
memungkinkan klien untuk bisa mencari cara pengaplikasian nilai hasil
penelitian dan internalisasi dengan jalan yang kongkrit. Biasanya klien menemukan
kekuatan mereka dan menemukan jalan untuk menggunakan kekuatan itu demi
menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan.
Adapun beberapa tahap lain yang dapat dilakukan oleh terapis dalam
terapi eksistensial antara lain :
1)
Terapis menunjukkan kepada
klien untuk meningkatkan kesadaran diri atas alternatif-alternatif,
motivasi-motivasi, dan tujuan-tujuan pribadi. Serta menunjukkan bahwa harus ada
pengorbanan untuk mewujudkan hal itu.
2)
Terapis membantu klien
dalam menemukan cara-cara klien menghindari penerimaan kebebasannya, dan
mendorong klien belajar menanggung resiko atas keyakinannya terhadap akibat
penggunaan kebebasannya.
3)
Terapis membantu klien
untuk membangkitkan keberaniannya mengakui ketakutannya, mengungkapkan
ketakutannya, dan kemudian mengajak klien untuk tidak bergantung dengan orang
lain secara neurotik.
4)
Terapis membantu klien
dalam menciptakan suatu sistem berlandaskan cara hidup yang konsisten.
5)
Terapis membantu klien
untuk menemukan makna hidupnya
6)
Terapis membantu klien
untuk mentoleransi segala bentuk ketakutan dan kecemasan sebagai bentuk
pembelajaran yang penting dalam hidup
7)
Terapis mendorong atau
memotivasi kliennya untuk mewujudkan aktualisasi dirinya
9.
Teknik Konseling
Teori humanistik eksistensial tidak memiliki
teknik-teknik yang ditentukan secara ketat.Prosedur-prosedur konseling bisa diambil dari beberapa teori
konseling lainnya. Tugas konselor
disini adalah menyadarkan konseli bahwa ia masih ada di dunia ini dan hidupnya
dapat bermakna apabila ia memaknainya. Serta membantu individu menyadari diri
sesungguhnya dapat memecahkan masalah mereka dengan intervensi
ahli terapi yang minimal.
Teknik
yang digunakan mendahului pemahaman. Karena menekankan pada pengalaman klien
sekarang, para terapis eksistensial menunjukkan keleluasaan dalam menggunakan
metode – metode, dan prosedur yang digunakan oleh mereka bisa bervariasi tidak
hanya dari klien yang satu kepada klien yang lainnya, tetapi juga dari satu ke
lain fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama Meskipun terapi eksistensial
bukan merupakan metode tunggal, di kalangan terapis eksistensial dan humanistik
ada kesepakatan menyangkut tugas – tugas dan tanggung jawab terapis.
Psikoterapi difokuskan pada pendekatan terhadap hubungan manusia alih – alih
system teknik. Para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang
mencakup hal – hal berikut (Gerald Corey.1988:58) :
1.
Mengakui pentingnya pendekatan
dari pribadi ke pribadi.
2.
Menyadari peran dari tanggung
jawab terapis.
3.
Mengakui sifat timbal balik
dari hubungan terapeutik.
4.
Berorientasi pada pertumbuhan.
5.
Menekankan keharusan terapis
terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
6. Mengakui bahwa putusan – putusan dan pilihan – pilihan akhir terletak di
tangan klien.
7. Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya
hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implicit
menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
8. Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk
mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
9. Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan
kebebasan klien.
Dalam konseling humanistik terdapat
teknik-teknik konseling , yang mana sebelum mengetahui teknik-teknik konseling
tersebut terdapat beberapa prinsip kerja teknik humanistik antara lain :
1)
Membina hubungan baik
(good rapport)
2)
Membuat klien bisa
menerima dirinya dengan segala potensi dan keterbatasannya
3)
Merangsang kepekaan
emosi klien
4)
Membuat klien bisa
mencari solusi permasalahannya sendiri.
5)
Mengembangkan potensi
dan emosi positif klien
6)
Membuat klien menjadi
adequate
Teknik-teknik yang digunakan
dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
1.
Penerimaan
2.
Rasa hormat
3.
Memahami
4.
Menentramkan
5.
Memberi dorongan
6.
Pertanyaan terbatas
7.
Memantulkan pernyataan dan
perasaan klien
8.
Menunjukan sikap yang
mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
9.
Bersikap mengijinkan untuk apa
saja yang bermakna.
Menurut
Akhmad Sudrajat teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan
ini yaitu teknik client centered counseling, sebagaimana dikembangkan oleh Carl R. Rogers.
meliputi:
(1) acceptance (penerimaan)
(2) respect (rasa hormat)
(3) understanding (pemahaman)
(4) reassurance (menentramkan hati)
(5) encouragementlimited
questioning (pertanyaan
terbatas)
(6) reflection
(memantulkan pernyataan dan perasaan)
(7) memberi dorongan
Melalui penggunaan teknik-teknik tersebut diharapkan
konseli dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya dengan baik,
mengambil keputusan yang tepat, mengarahkan diri mewujudkan dirinya.
Yang paling dipedulikan oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia
subyektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan
pilihan-pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu,
dan bukan pada menolong klien agar bisa sembuh dari situasi masa lalu (May
&Yalom, 1989). Biasaya terpis eksistensial menggunakan metode yang mencakup
ruang yang cukup luas, bervariasi bukan saja dari klien ke klien, tetapi juga
dengan klien yang sama dalam tahap yang berbeda dari proses terapeutik.
Di satu sisi, mereka menggunakan teknik seperti desentisasi (pengurangan
kepekaan atas kekurangan yang diderita klien sehabis konseling), asosiasi
bebas, atau restrukturisasi kognitif, dan mereka mungkin mendapatkan pemahaman
dari konselor yang berorientasi lain. Tidak ada perangkat teknik yang
dikhususkan atau dianggap esensial (Fischer & Fischer, 1983). Di sisi lain,
beberapa orang eksistensialis mengesampingkan teknik, karena mereka lihat itu
semua memberi kesan kekakuan, rutinitas, dan manipulasi.
Sepanjang proses terapeutik, kedudukan teknik adalah nomor dua dalam hal
menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa secara efektif
menantang dan memahami klien.
10. Kelebihan dan Keterbatasan
Ø Kelebihan Eksistensial Humanistik
1)
Teknik ini dapat
digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan
kepercayaan diri.
2)
Adanya kebebasan klien
untuk mengambil keputusan sendiri.
3)
Memanusiakan manusia.
4)
Bersifat pembentukan
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
5)
Pendekatan terapi
eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah
karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun masa
transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa
Hasil pemikiran dari psikologi humanistik banyak
dimanfaatkan untuk kepentingan konseling dan terapi, salah satunya yang sangat
populer adalah dari Carl Rogers dengan client-centered therapy, yang
memfokuskan pada kapasitas klien untuk dapat mengarahkan diri dan memahami
perkembangan dirinya, serta menekankan pentingnya sikap tulus, saling
menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi
masalah-masalah kehidupannya.
Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki
jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas konselor hanya membimbing
klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik asesmen dan
pendapat para konselor bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment atau
pemberian bantuan kepada klien. Selain memberikan sumbangannya terhadap
konseling dan terapi, psikologi humanistik juga memberikan sumbangannya bagi
pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik
(humanistic education). Pendidikan humanistik berusaha mengembangkan individu
secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional,
sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model
pendidikan humanist.
Ø Kelemahan
Eksistensial Humanistik
1) Dalam
metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal
2) Dalam
pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas
3) Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi
masalahnya (keputusan ditentukan oleh klien sendiri)
4) Proses terapi membutuhkan waktu yang panjang dan
ketakpastian kapan berakhir, berapa jam dan berapa kali pertemuan
5) Memiliki
keterbatasan penerapan pada kasus level keberfungsian klien yang rendah (
klien yang ekstrem yang membutuhkan penangan secara langsung)
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Terapi eksistensial-humanistik berdasarkan pada asumsi bahwa kita bebas
dan bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita
lakukan. Yang paling diutamakan
dalam konseling eksistensial-humanistik adalah hubunganya dengan klien.
Kualitas dari dua orang yang bertatap muka dalam situasi konseling merupakan
stimulus terjadinya perubahan yang positif. Ada tiga tahap dalam proses
konseling eksistensial-humanistik. Dan tidak ada teknik khusus yang digunakan dalam konseling
eksistensial-humanistik.
Kecocokannya untuk diterapkan di Indonesia terletak pada pendapat
kalangan eksistensial tentang kebebasan dan control dapat bermanfaat untuk
menolong klien menangani nilai-nilai budaya mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan
perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan
perilaku mereka.
B. Saran
Memiliki kemampuan dalam konseling humanistik
merupakan hal yang penting,dapat mengarahkan hidup kita ke masa depan yang
lebih baik. Untuk itu kita harus mengasah kemampuan (kreatifitas) kita secara
baik berdasarkan pengalaman – pengalaman pribadi kita di lingkungan.Kita dapat
memahami dan mengetahui hal-hal atau masalah klien kita nantinya.
DAFTAR PUSTAKA
Gerald, Corey.
1988. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi.Bandung : PT ERESCO
Feist, Jess
& Gregory J Feist. 2008. Theories of Personality. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar
Mahasiswa BK.
2009. Model-Model Konseling. UMK
Misiak,
henryk.2005.psikologi fenomenologi,eksistensial dan humanistic. Bandung: PT
rafika aditama
Rahmasari,Diana.,2012. Peran
Filsafat Eksistensialisme terhadap Terapi Eksistensial-Humanistik untuk
Mengatasi Frustasi Eksistensial Volume 2 Nomor 2
Latipun. 2001.
Psikologi Konseling. Malang: Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang
Rosjidan.
1988. Pengantar teori-teori konsleing. Jakarta: Direktorat Pendidikan
Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sukardi, D.K.
1985. Pengantar teori konseling: suatu uraian ringkas, Jakarta Timur:
Ghalia Indonesia
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&cad=rja&ved=0CD4QFjAD&url=http%3A%2F%2Fdigilib.sunan-ampel.ac.id%2Ffiles%2Fdisk1%2F214%2Fjiptiain--rizaamalia-10695-4-babii.pdf&ei=bllQUaz5OIzRrQempICgBg&usg=AFQjCNGhrNaw_hs2f2klI-wnrwkyQZKQVA&sig2=JlSp04lsi1yarqXFJr7_GQ&bvm=bv.44158598,d.bmk
www.psikomedia.com/article/pdf?id=2408
www.psikomedia.com/article/pdf?id=2408
Tidak ada komentar:
Posting Komentar