MAKALAH
Perilaku Beragama Menurut Psikoanalisis
Diajukan untuk memenuhi syarat kelulusan
mata kuliah konseling agama
Dosen Pengampu: Agus Maemun, S.PD, S.Pd
Disusun oleh:
1) Elis dewi utami (1113500113)
2) Fasikhatun khotimah (1113500161)
3) Fraba murtaza (1113500014)
4) Ni’matul illahiyah (1113500028)
5) Retno wulandari (1113500007)
Semester 4A
PROGRAM STUDI
BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PANCASAKTI TEGAL
2015
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah tentang Perilaku
Beragama Menurut Psikoanalisis ini dengan baik meskipun banyak
kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Agus Maemun, S.PD, S.Pd selaku Dosen mata kuliah konseling agama UPS Tegal yang telah memberikan
tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan serta pengetahuan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di
dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab
itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun
yang membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi
kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.
Tegal,
19Maret 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pada abad ke-21 ini terdapat
empat psikologi yang menonjol, salah satu diantaranya yaitu psikologi analisis.
Keberjayaannya psikoanalisis antara lain disebabkan oleh para tokohnya yaitu
freud, jung, dan lacan, yang benar-benar menguasai baik psikologi dan psikiatri. Psikoanalisa dianggap sebagai salah satu gerakan revolusioner di bidang
psikologi yang dimulai dari satu metode penyembuhan penderita sakit mental,
hingga menjelma menjadi sebuah konsepsi baru tentang manusia.
Dasar pemikiran Freud adalah bahwa
sebagian besar perilaku manusia berasal dari proses yang tidak disadari
(unconscious processes). Yang dimaksud Freud dengan proses tidak sadar ialah
pemikiran, rasa takut, dan keinginan-keinginan yang tidak disadari seseorang
memiliki pengaruh pada perilakunya, terutama pengaruh negatif berupa hasrat yang
mengganggu keseimbangannya.
Sigmund
Freud mengkonstruksi teori agama secara berbeda dari aliran psikologi
behavioristik dan humanistik. Freud mengkaji persoalan kepribadian dan agama
seseorang dari perspektif psikoanalisa. Menurut Freud, kepribadian manusia
dibangun melalui tiga sistem: id, ego, sup
erego.
Ketiga sistem itu, berada dalam tiga struktur kepribadian, yaitu alam sadar,
alam pra-sadar, dan alam tak sadar. Menurut Freud, bagian terbesar dari jiwa
manusia berada dalam alam ketidaksadaran, bukan alam sadar. Dan perilaku
manusia dikendalikan oleh alam bawah sadar; seperti insting, hasrat, dan
libido. Melalui tesis ini, teori agama diproduksi dan dikembangkan sedemikian
rupa. Agama bagi Freud adalah dorongan libido yang muncul dari alam
ketidaksadaran tersebut. Sebab itu, Freud
punya keyakinan bahwa agama tidak akan dapat mampu berbicara banyak dalam kehidupan, karena agama adalah sikap kegilaan yang infantil. Freud merekomendasikan agar manusia meninggalkan agama.
punya keyakinan bahwa agama tidak akan dapat mampu berbicara banyak dalam kehidupan, karena agama adalah sikap kegilaan yang infantil. Freud merekomendasikan agar manusia meninggalkan agama.
B.
Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Psikoanalisis?
2. Bagaimana Pandangan tentang perilaku
beragama menurut para tokoh Psikoanalisis ?
3. Bagaimana Freud membangun
argumentasinya ?
4.
Bagaimana
Perbandingan Agama dengan gangguan jiwa (neurotik)?
5.
Bagaimana Kritik Terhadap
Aliran Psikoanalis ?
C. Tujuan
Makalah
Dilihat dari rumusan masalah di atas dapat kita simpulkan
tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :
1.
Untuk mengetahui pengertian dari
Psikoanalisis tentang Perilaku Beragama.
2.
Untuk mengetahui bagaimana pandangan
tentang Perilaku Beragama menurut para tokoh Psikoanalisis.
3.
Untuk mengetahui argumentasi menurut
Freud.
4.
Untuk mengetahui bagaimana
perbandingan Agama dengan gangguan Jiwa ( Neurotik ) .
5.
Untuk mengetahui bagaimana kritik
terhadap aliran Psikoanalisis.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Aliran psikoanalisa
a. Pengertian psikoanalisis secara Umum
Psikoanalisa
ditemukan di Wina, Austria, oleh Sigmund Freud. Psikoanalisis merupakan salah
satu aliran di dalam disiplin ilmu psikologi yang memilik beberapa definisi dan
sebutan, Adakalanya psikoanalisis didefinisikan sebagai metode penelitian,
sebagai teknik penyembuhan dan juga sebagai pengetahuan psikologi.
Psikoanalisa
menurut definisi modern yaitu (1) Psikoanalisis adalah pengetahuan psikologi yang
menekankan pada dinamika, faktor-faktor psikis yang menentukan perilaku
manusia, serta pentingnya pengalaman masa kanak-kanak dalam membentuk
kepribadian masa dewasa, (2) Psikoanalisa adalah teknik yang khusus menyelidiki
aktivitas ketidaksadaran (bawah sadar), (3) Psikoanalisa adalah metode
interpretasi dan penyembuhan gangguan mental.
Freud mengkaji persoalan kepribadian dan agama seseorang
dari perspektif Psikoanalisa. Menurut Freud, kepribadian manusia di bangun
melalui tiga system : ID, EGO, SUPER EGO. Ketiga system itu berada dalam tiga
struktur kepribadian, yaitu alam sadar,alam prasadar, dan alam tak sadar.
Menurut Freud bagian terbesar dari jiwa manusia berada dalam alam
ketidaksadaran, bukan alam sadar. Dan perilaku manusia dikendalikan oleh alam
bawah sadar : seperti insthing, hasrat dan Libido melalui tensis ini, teori
agama di produksi dan di kembangkan sedemikianrupa. Agama bagi Freud adalah
dorongan Libido yang muncul dari alam ketidaksadaran tersebut. Sebab itu, Freud
punya keyakinan bahwa agama tidak akan daoat mampu berbicara banyak dalam
kehidupan, karena agama adalah sikap kegilaan yang infantile. Freud
merekomendasikan agar manusia menginggalkan agama.
b.
Konsep
Manusia Dalam Psikoanalisa
Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan
oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan
dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam
kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat
manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey
yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara
sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud
luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan,
tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang
itu lebih rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut.
Di sini, Freud memberikan indikasi bahwa tantangan
terbesar yang dihadapi manusia adalah bagaimana mengendalikan dorongan agresif
itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah dan cemas seseorang itu ada hubungannya
dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat manusia itu akan punah. Dan struktur
kepribadian Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri
dari id, ego dan superego.
1.
Id adalah
komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem
kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”.
2.
Ego
adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem
kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia
dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar
nilai-nilaisuperego.
3.
Superego adalah
bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor
baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh
dorongan ego.
B.
Pandangan tentang perilaku beragama menurut para tokoh
Psikoanalisis.
C.
Bagaimana Freud membangun argumentasinya
D.
Perbandingan
Agama dengan gangguan jiwa (neurotik)
Freud sebagai
tokoh Psikoanalisa menganggap bahwa kepercayaan agama sebagai kekeliruan. Agama
adalah takhayul. Namun pada saat yang sama, ia melihat agama sebagai takhayul
yang menarik dan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan penting tentang manusia.
Kenapa manusia
mau mempercayai agama, bahkan dilakukan dengan kesungguhan yang mendalam,
padahal agama adalah kekeliruan? Jika memang agama itu tidak rasional, lantas
kenapa manusia masih membutuhkannya? Dan kenapa mereka masih memegangnya?
Dengan menggunakan kacamata psikoanalisa, Freud berani menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut secara gamblang.
Dalam sebuah
artikel Freud yang diterbitkan dengan judul Obsessive Actions and Religious
Practices (1907), dia menyimpulkan perilaku orang beragama mirip dengan tingkah
laku pasien neurotisnya. Misalnya, keduanya sama-sama menekankan bentuk-bentuk
seremonial dalam melakukan sesuatu, dan sama-sama akan merasa bersalah
seandainya tidak melakukan ritual-ritual tersebut dengan sempurna.
Pada kedua kasus tersebut, upacara-upacara yang dilakukan juga diasosiasikan dengan dorongan represi dasariah. Gangguan psikologis biasanya muncul dari ketertekanan hasrat seksual, sedangkan dalam agama sebagai akibat ketertekanan diri (ke’aku’an), yaitu pengontrolan terhadap insting-ego. Jadi, kalau represi seksual terjadi dalam gangguan obsesi mental diri seseorang, maka agama yang dipraktekkan oleh lebih banyak kalangan bisa dikatakan sebagai gangguan obsesi mental secara universal.
Perbandingan ini merupakan tema kunci dalam seluruh tulisan Freud tentang agama. Dalam pandangannya, perilaku agama selalu mirip dengan penyakit jiwa.
Pada kedua kasus tersebut, upacara-upacara yang dilakukan juga diasosiasikan dengan dorongan represi dasariah. Gangguan psikologis biasanya muncul dari ketertekanan hasrat seksual, sedangkan dalam agama sebagai akibat ketertekanan diri (ke’aku’an), yaitu pengontrolan terhadap insting-ego. Jadi, kalau represi seksual terjadi dalam gangguan obsesi mental diri seseorang, maka agama yang dipraktekkan oleh lebih banyak kalangan bisa dikatakan sebagai gangguan obsesi mental secara universal.
Perbandingan ini merupakan tema kunci dalam seluruh tulisan Freud tentang agama. Dalam pandangannya, perilaku agama selalu mirip dengan penyakit jiwa.
E.
Kritik Terhadap Aliran
Psikoanalis
Psikoanalisis
adalah aliran Psikologi yang dikembangkan oleh Sigmund Freud, yang memandang
manusia adalah makhluk yang hidup atas bekerjanya dorongan dorongan (id) dan
memandang manusia sangat ditentukan oleh masa lalunya. Freud mengungkapkan satu
satunya hal yang mendorong kehidupan manusia adalah dorongan id (libido
seksualitas) dan mendapat tantangan keras. Teori ini dipandang menyederhanakan
kompleksitas dorongan hidup manusia. Teori ini kesulitan untuk menjelaskan
hubungan seseorang akan aktualisasi diri atau juga kebutuhan untuk
beragama. Teori ini tak mampu menjelaskan tentang dorongan yang dimiliki
Muslim untuk mendapat ridha dari Allah SWT. Teori ini tidak akan mampu
menjelaskan kebutuhan manusia dalam ajaran Islam diyakini bahwa manusia punya
kecenderungan untuk beragama (fithrah) Konsep Psikoanalisis menekankan pengaruh
masa lalu sehingga dikritik banyak kalangan, karena terkandung pesimisme pada
setiap upaya pengembangan diri manusia. Jika dibandingkan dengan kebanyakan
aliran psikologi lainnya, aliran psikoanalis memang mendapatkan paling banyak
kritik. Barakatu (2007) dalam telaah kritisnya terhadap Freud; Agama dan
Implikasinya dalam Pendidikan, diantaranya.
a. Cacat metodologis menjadi keberatan
paling utama terhadap
teori Freud mengenai agama.
b.Seks
bukan satu-satunya penentu kepribadian manusia.
c.Penganut
agama yang taat adalah manusia yang memiliki kesehatan mental yang jauh
lebih baik dari orang yang terkena ilusi dan mengidap neurosis.
BAB
III
PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran
DAFTAR
PUSTAKA
Jalaludin.Psikologi
Agama.Jakarta : PT. Grafindo Persada.2009
yang Pandangan tentang perilaku beragama menurut para tokoh Psikoanalisis belum ada ya ?
BalasHapusCasino Lake Tahoe, Nevada - Mapyro
BalasHapusThe 상주 출장마사지 map shows Harrah's Lake 광양 출장샵 Tahoe, Nevada. Stateline 동해 출장샵 Lake Tahoe Casino Lake Tahoe, 사천 출장마사지 Nevada, Stateline Lake 서울특별 출장마사지 Tahoe, Nevada.